BERENANG DI LAUT TINTA

TANGISAN MALAM
JUMAT KELIWON
                                                                   

MALAM Jum'at Kliwon yang sunyi di sebuah perkampungan yang terdapat di lereng pegunungan. Meski banyak dedaunan saling bergesek oleh hembusan angin, namun tak membuat suasana malam itu terkesan tenang. Terlebih disatroni sesekali terdengar kicau burung Hantu, menambah sunyi malam semakin mencekam. Udara dingin menyeruak. Wajah langit pum terlihat kelam tanpa bulan dan bintang. Terlihat di atas sana bergumpalan awan pekat menutup cahaya bintang, seolah malam itu akan turun hujan. Malam yang berdesah oleh dedaunan yang saling gesek pun seketika terdiam.

Sebuah pondok berdinding anyaman bambu, terlihat diantara pemukiman perkampungan itu. Kerlip cahaya terlihat memberkas melalui celah dinding pondok itu. Sepertinya cahaya itu terpijar dari pelita minyak yang menyala di dalam pondok bambu tersebut. Tiba tiba terdengar suara eakan, seperti suara bayi. Benar, dari dalam kamar pondok rumah bambu itu, nampak seorang wanita paruh baya, kurus dan rambut tergerai sepinggang, tengah terduduk lemah di lantai kamar yang beralaskan tikar pandan. Si wanita kemudian nampak merangkak mendekati kolong ranjang kamarnya.

Dibetis kaki wanita itu mengalir darah segar. Wajah wanita itu pucat. Gerak gerik si wanita seperti orang yang hendak meraih sesuatu. Benar, kedua tangan wanita itu ternyata sudah membopong sosok bayi yang masih berlumuran dengan darah segar.

Ternyata suara eakan itu adalah tangisan bayi yang baru saja dilahirkan wanita itu tanpa satu orang pun teman, apalagi dukun beranak. Dengan sisa sisa tenaganya, wanita itu berdiri dan membaringkan tubuh bayinya diatas ranjang kayu. 

     " Kamu tenang di sini dulu ya nak, ibu akan teriak minta tolong pada Mbok Sunah, agar bisa memandikanmu dan juga mengurus kita berdua di sini " ujar wanita yang ternyata ibu dari bayi yang baru lahir itu. 

Aneh, seolah mengerti bahasa ibunya, tangisan si bayi pun tiba tiba terdiam. Setengah tertatih dan berpegangan tiang tiang pondok, wanita itu berjalan menuju pintu belakang dan membukanya.

  " Mboookk.. Mbok Sunaaahh... Toloooong... Aku melahirkan......!! " Teriaknya seolah dipaksakan berulang kali.

      " Kamu kah itu Ni....Murtiranii...." Satu sahutan suara wanita tua terdengar.

Namun tak ada lagi jawaban dari wanita tadi. Nampak sosok perempuan tua berjalan tergopoh gopoh menuju pondok wanita bersalin tersebut. Secepatnya wanita tua yang ternyata dipanggil Mbok Sunah itu menghampiri pintu belakang pondok si wanita yang memanggil manggil namanya tadi.

  " Astaghfirullahal Aziim.. Ya Allah..Ya Allah... Kamu pingsan Ni... Karni bangun..." Teriak mbok Sunnah setengah menangis sambil menerkam tubuh Murtirani yang tergeletak di lantai ruang belakang pondok.

Nampak tubuh wanita yang baru melahirkan itu lunglai dan terbaring di lantai. Dengan cekatan, mbok Sunah merangkul wanita yang ia panggil dengan nama Murtirani itu. Sekuat tenaga, tubuh wanita bersalin yang masih bersimbah darah itu diletakan dipundaknya. Diantara susah payah memanggul dan memapah tubuh ramping si wanita, sampailah Mbok Sunnah ke dalam kamar si wanita hingga membaringkannya tanpa gugup sedikitpun.

Setelah memandikan ibu beserta bayinya, Mbok Sunah segera membuat ramuan buat Murtirani. Menurut mbok Sunah, apabila wanita yang baru melahirkan meminum ramuan itu maka akan berkhasiat menghentikan darah yang keluar dari dalam rahim ibu yang melahirkan. Sekira selepas ayam berkokok seisi ruang pondok menjadi riuh oleh kehadiran enam bocah kecil yang ternyata juga merupakan anak anak Murtirani.

Sedikitnya ada 6 anak yang menghampiri mbok Sunah dan Karni di dalam kamar. Diantra ke Enam anak itu, satu anak remaja laki laki berusia sekira Sembilanbelas tahunan terlihat duduk paling depan dikerumunan Enam bocah. Agaknya si bujang tanggung itu merupakan anak pertama dari hasil perkawinan Murtirani dengan suaminya. Di belakang si sulung duduk bocah laki laki berwajah tampan berusia sekira sebelas tahunan. Bocah laki laki itu ternyata merupakan anak kedua dari enam bocah bersaudara tersebut. Selanjutnya Dua anak perempuan manis, Satu putri berusia sekira Sembilan tahunan dan Satu putri lagi berusia sekira Delapan tahunan. Satu anak laki laki lagi namun berbadan gemuk berusia sekira Enam tahunan juga nampak duduk dengan wajah ceria diantara kerumunan Enam bocah bersaudara itu. Terakhir, menyusul dari belakang seorang bocah perempuan berusia sekira Dua tahunan, terlihat menunjukan wajah ceria melihat ada bayi laki laki imut dan lucu tergolek dengan balutan kain panjang di atas ranjang.

       " Horeeee... Adik sudah datang.. Horee..." Teriak si gemuk dengan riangnya.

       " Asiiikkk.. Adik kecilku sudah lahir .." Ucap girang si puri kecil Dua tahunan itu sambil menoel pipi bayi yang imut yang juga adik kandung langsungnya itu.

Nampak remaja yang merupakan anak pertama mendekat dan menciumi wajah sang bayi dengan penuh bahagia.

  " Wahh...adiku lahir dengan selamat. Alhamdulillah.. Dia sangat tampan sekali ibu " ujar si remaja bicara dengan ibunya yang terbaring lemah di samping bayinya. Ibunya hanya menganguk lemah sembari tersenyum pada anak sulungnya itu.

     " Adiku yang ganteng.. Besok, jika engkau besar, apapun yang engkau minta maka mintalah padaku.. " Janji sang kakak pertama dari Enam bersaudara yang kini sudah jadi Tujuh bersaudara karena kehadiran sang bayi.

Suasana bahagia bercampur haru membalut suasana pagi itu. Lahirnya bayi imut tanpa diketahui keluarga dan tetangga itu pun menjadi perbincangan hangat kelurga Murtirani. Termasuk Mbok Sunnah juga ikut membahas peristiwa kelahiran sang bayi, termasuk ketiadaan sang ayah yang konon belum pulang dari perantauan di luar wilayah.

   " Kenapa Ni, si Suratandi dibiarkan pergi ? " Tanya Mbok Sunnah menyebut nama laki laki yang ternyata suami wanita bersalin yang bernama Karni itu.

    " Yah.. Mau bagaimana lagi Mbok,.. Kehidupan kami susah seperti ini. Anak banyak, bekal hidup sehari hari harus terus dicari mbok. Aku pikir juga tak sampai bayiku lahir, dia sudah pulang. Ternyata dugaanku salah " jawab Murtirani agak mengeluh.

     " Mungkin kalau tepat dengan janji, bapaknya anak anak akan pulang sekira Dua hari lagi Mbok " ujar Karni lagi.

        " Ya sudah.. Kita tunggu saja. Oh ya , jadi untuk memberi nama bayimu dilakukan sekarang atau nunggu suamimu Ni ? " Tanya mbok Sunnah kepada Muryirani.

       " Mungkin menunggu bapaknya anak anak Mbok, " jawab Murtirani. Terlihat Mbok Sunah hanya manggut manggut tanda menyetujui jawaban ibu dari tujuh anak itu.

DUA hari kemudian, bunyi sepatu kuda terdengar di jalan perkampungan desa Penerkulon.
Nampak seorang pria paruhbaya berikat kepala batik wulung menjangklik di atas kereta Kuda. Bunyi " Cak kicuk" sepatu Kuda terus terdengar mengundang perhatian para tetangga yang kebetulan melihat si pria paruhbaua melaju bersama sang kusir di atas kereta Kudanya itu. 


                                        BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar