TENGAH hari yang terik oleh panas Matahari di sebuah desa. Seakan ingin membakar bumi. Bahkan dedaunan pohon yang rindang pun seolah tak mau bergoyang oleh hembusan angin. Udara di hari itu benar benar menyengat. Nampak sosok bocah laki laki bertubuh tinggi kurus, melangkah gontai di jalanan kerikil. Bocah itu masih berusia Limabelasan tahun. Si bocah berpakaian seragam sekolah, celana pendek warna biru, berbaju putih membungkus tubuhnya yang putih bersih dan ramping.
Tangan kanan si bocah terlihat menjinjing sepasang sepatu hitam yang sudah robek. Sedangkan tangan kirinya mendekap benda yang mirip buku, namun berukuran lebih besar dan panjang. Sampai di persimpangan jalan, langkah si bocah terhenti seketika. Si bocah menatap pertikungan jalan setapak ysng biasa ia lalui untuk pulang pergi sekolah. Si bocah terhenti dan tiba tiba duduk di bawah pohon rambutan.
" Alhamdulillah Ya Allah, aku lulus dengan nilai sangat bagus " desah si bocah sembari menyibak lembaran buku di tangan kirinya.
Benda yang menyerupai buku itu tak lain dan tak bukan adalah Satu jilid Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) alias Ijazah. Benar, si bocah yang ternyata baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu nampak tersenyum puas hingga ia kembali menutup rapi ijazah tersebut. Tiba tiba bola mata si bocah berkaca kaca. Tatapannya nampak kosong. Di benaknya kini mulai menerawang jauh pada sebuah kisah kehidupanya yang pahit. Satu kenangan sedih terbayang. Satu kalimat pedih terngiang. Dimana sebulan silam, tepatnya pada masa Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional alias Ebtanas, si bocah disuguhi perdebatan sengit kedua orang tuanya. Perdebatan kedua orang tuanya terjadi akibat rencana agar ia bisa melanjutkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau SLTA setelah tamat ia SMP nanti. Sang ayah mempertahankan pendapatnya agar ia tetap melanjutkan sekolah. Namun sang ibu bersikeras, jika ia dilanjutkan justru keprihatinan akan semakin menambah derita si bocah yang juga diketahui merupakan anak bungsu mereka.
" Tidakah bapak lihat, penderitaan anak kita selama ini ? Sejak ia kelas satu SMP harus menempuh perjalanan kiloan meter hanya dengan jalan kaki", bantah sang Ibu mengingatkan jika kemauan sang ayah tidak mengukur kemampuannya.
" Tidak Bu, Si Ono pasti mampu mandiri setelah SMA nanti, ia cerdas dan memiliki akal hingga aku yakin dia bakal bisa bersekolah " tukas sang ayah.
" Aku yang tahu persis penderitaan dia Pak. Bapak hanya tahu kerja dan cari uang, tak pernah tahu bagaimana Si Ono sering tidak sarapan karena takut terlambat belajar " celetuk sang ibu lagi.
" Bapak juga tak pernah tahu anak kita sering lapar di sekolah karena tak membekal uang jajan, mengapa Bapak begitu yakin mampu sekolhkan anak kita " sambung sang Ibu lagi.
" Aku tahu bu,, aku tahu.. Tapi itu juga merupakan pelajaran hidup agar anak kita kelak bisa mandiri, aku ingin dia tetap lanjut sekolah " bantah sang ayah.
" Pokoknya tidak! Aku tak sanggup melihat kepedihan kepedihan terus dialami anak kita pak. SMP saja sudah seperti itu, apalagi SMA dan jauh dari kita. Aku sering menangis jika melihat ia berangkat dan pulang sekolah pak, aku yang menangis, pediih sekali pak " ujar sang Ibu membeberkan derita si bocah yang juga anaknya yang punya nama Ono itu.
Perdebatan seolah semakin memanas. Padahal saat itu waktu sudah menunjukan pukul dua malam. Ono yang saat itu ternyata baru saja terjaga dari tidur, mendengarkan dengan jelas pertengkaran kedua orang tuanya dari ruang kamarnya yang hanya tersekat dinding papan dari kamarnya. Ia bangkit duduk dari tempat tidur yang terbuat dari kayu. Ono pun mulai berfikir mengapa kedua orang tuanya itu bertengkar di tengah malam hanya karena berbeda pendapat, terkait kelanjutan sekolahnya itu.
Ia coba merenungi kejadian setelah suasana perdebatan ayah bundanya itu reda. Dalam benaknya juga berkecamuk. Apa yang menjadi perbedaan pendapat kedua orang tuanya itu bak peperangan yang terjadi didalam hati dan fikirannya. Di sisi lain Ono membenarkan kata kata ibunya, jika faktanya sang ibu sudah tak tahan melihat penderitaan sekolahnya itu. Ono juga benar benar tak sanggup lagi menyaksikan linangan air mata sang Ibu ketika ia terpaksa tidak sarapan pagi karena tidak ada makanan juga terkadang karena takut kesiangan sampai di sekolah yang jaraknya kurang lebih hampir Lima kilometer dari rumahnya dan ia tempuh dengan berjalan kaki.
Ono membenarkan pendapat sang ibu karena bukti kasih sayangnya tak sanggup memperpanjang derita anaknya. Bagaimana tidak ? Budi dapat merasakannya ketika di sekolah tak bisa jajan hanya untuk mengganjal perutnya yang kosong. Jangankan uang jajan, SPP sekolahnya pada masa itu juga sering jatuh tempo dan menunggak hingga 3 sampai 4 bulan. Tak jarang ia kena tegur guru, tak jarang pula ia dapat surat peringatan sekolah terkait tunggakan BP3 nya.
Hal yang bisa dilakukan adalah memohon kepada guru atau sekolah untuk bersabar hingga ayahnya pulang dari perantauan dan bisa melunasi hutang SPP ataupun BP3 sekolah. Kejadian seperti itu terus berulang hingga tak jarang Ono sering malu pada guru juga teman teman sekolahnya. Faktor kehidupannya yang miskin membuat Ono menjadi anak yang pesimis dan malu bergaul dengan teman sekolah juga dengan teman teman di desa. Berapa kali ia harus menjahit sepatu dan bajunya, berapa kali ia harus mencuri buah jambu entah milik siapa dipinggir jalan demi mengisi perut kosongnya yang tidak sarapan dari rumah.
Berapa kali ia harus menahan tangis ketika ibunya menyembunyikan tangis, berapa kali ia harus mengaku tidak mengapa ketika ibunya bertanya bagaimana belajar dan sekolahnya. Ono benar benar tak mampu menghitungnya lagi.
" Hhhhh.. Benar kata ibu. Ia melarang aku lanjut sekolah karena kasih sayangnya yang besar. SMP saja seperti ini bagaimana nanti jika aku SMA ? " gumam Ono dalam hati membenarkan pendapat sang ibu. Namun di sisi lain Ono juga membenarkan pendapat ayahnya. Menjadi seorang anak yang berpendidikan tinggi adalah cita citanya sejak kecil. Dimana harapan agar tuntas sekolah hingga ia menjadi seorang sarjana adalah impian terbesar dalam hidup Ono. Naluri sang ayah yang sejatinya sejalan dengan hati kecilnya itu membuatnya tidak bisa menyalahkan sang ayah yang ngotot inginkan ia meneruskan sekolah ke jenjang lanjutan. Hati berkecamuk dan bimbang, fikiran Ono sangat kacau. Pendapat kedua orang tuanya sama sama benar dan dikelurkan karena kasih sayang kepada anaknya.
" Hhhhh.. Benar kata ibu. Ia melarang aku lanjut sekolah karena kasih sayangnya yang besar. SMP saja seperti ini bagaimana nanti jika aku SMA ? " gumam Ono dalam hati membenarkan pendapat sang ibu. Namun di sisi lain Ono juga membenarkan pendapat ayahnya. Menjadi seorang anak yang berpendidikan tinggi adalah cita citanya sejak kecil. Dimana harapan agar tuntas sekolah hingga ia menjadi seorang sarjana adalah impian terbesar dalam hidup Ono. Naluri sang ayah yang sejatinya sejalan dengan hati kecilnya itu membuatnya tidak bisa menyalahkan sang ayah yang ngotot inginkan ia meneruskan sekolah ke jenjang lanjutan. Hati berkecamuk dan bimbang, fikiran Ono sangat kacau. Pendapat kedua orang tuanya sama sama benar dan dikelurkan karena kasih sayang kepada anaknya.
" Aku harus bagaimana? Apakah aku harus ikut kehendak ayah atau ibu ? " Keluhnya dalam hati.
Kaki Ono yang telanjang dibujurkan. Kedua tangannya yang kecil ditarik ke belakang, menopang tubuh kurusnya duduk di bawah pohon rambutan yang rindang. Wajahnya menengadah ke awang awang. Matanya menyipit menatap ke atas, seolah ingin menembus langit yang menyilaukan seperti harapan ingin menembus kebimbangnnya tentang dua perbedaan pendapat ayah ibunya. Begitu getir ia merasakan kebimbangan itu. Namun setelah ia ingat bagaimana ibunya sering menangis karena penderitaan sekolahnya membuat Ono ingin memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Perlahan Ono bangkit dari duduknya setelah lamunannya buyar oleh awan yang menutup panas matahari. Kembali ia mengayun langkah menuju pulang.
PEREMPUAN paruhbaya nampak duduk termangu di kursi tamu seorang diri di rumah berdinding papan. Bola matannya nampak berkaca kaca ketika melihat seorang anak laki laki berusia Limabelasan tahun melempar benda sejenis buku begitu saja ke ranjang bertikar. Benda berjenis buku tersebut tak lain adalah merupakan ijazah sekolah. Dalam hati si wanita paruhbaya itu dapat merasakan kepedihan yang teramat sangat ketika melihat wajah murung anak laki laki itu yang tak bukan adalah anak kandungnya sendiri. Si wanita dapat menangkap arti di balik wajah murung anaknya itu. Jika bukan karena kesal, maka bisa dipastikan jika anaknya kini tengah memendam rasa kecewa. Si wanita paruh baya ingat malam kejadian sebulan lalu. Dimana ia dan suaminya bertengkar hebat karena persoalan masa depan sekolah anaknya itu. Perdebatan tersebut saling bertentangan. Dimana kemauan sang ayah menginginkan agar anaknya itu harus melanjutkan sekolah. Sementara ia sebagai ibu kandung tidak mengizinkan jika anaknya yang baru lulus SMP itu harus melanjutkan sekolah dengan alasan sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan demi penderitaan anaknya yang menimba ilmu pendidikan, di tengah lautan derita hidup dalam kemiskinannya. Sang ibu yakin jika pertengkarannya dengan sang suami berkemungkinan sudah didengar anaknya pada malam itu.
" Ada apa On, kok rapotnya dilempar begitu saja ? " Tanya sang ibu lugas pada putranya itu dengan suara yang lembut.
" Ndak ada apa apa Mbok, Ono lagi capek dan gerah saja " jawab anaknya yang ternyata adalah Ono mencoba sembunyi dari kenyataan fikirannya saat ini.
" Ya sudah kamu lekas ganti pakaian lalu makan siang " titah ibunya.
" Ya Mbok " jawab Ono.
Ono segera bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dicampakan stelan biru putihnya itu ke lalu dipandanginya lekat lekat busana yang selama ini jadi teman setia setiap harinya ke sekolah. Lalu bibirnya nampak bergetar tak kuasa menahan tangisan.
" Selamat tinggal baju dan celanaku, engkau kan jadi kenangan terakhir sekolahku, karena aku tak akan lagi melanjutkan sekolah " ujar Ono dalam hati seolah berpamitan pada sepasang pakaiannya itu. Lama sekali Ono sembunyi dikamarnya sembari menanti air mata yang mengalir di pipinya itu reda.
Hampir setengah jam Ono menangis tanpa suara di kamarnya. Setelah itu, ia pun keluar dan bergegas menuju dapurnya. Diambilnya satu entong nasi putih dalam priuk yang masih ada di atas tungku dan sedikit lauk ampas tahu yang juga lauk kesukaanya juga masih ada di kuali hangus di atas tungku dapur.
" Walaupun hampir setiap hari Mboke memasakmu, namun kamu tetap jadi paforitku, Gembos ya Gembos.." Ucap Ono seolah ingin menghibur kesedihanya dengan menyebut nama lauk yang terbuat dari ampas tahu itu.
Ono melahap nasi dalam piring dengan perasaan masih berkecamuk mengingat keputusannya untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.
" Cukuplah SMP aku memiliki tamatan sekolah, daripada membuat si Mbok menangis terus melihat aku terus sengsara menempuh pendidikan " ucapnya dalam hati seraya mengunyah lauk Gembos yang terasa empuk di lidahnya itu.
SEBULAN kemudian, terlihat bocah remaja laki laki bertubuh tinggi semampai berjalan agak tergesa gesa. Dilihat dari raut wajah tampan yang masih imut diperkirakan usia bocah remaja itu sudah menginjak Enambelas tahunan. Si perjaka tanggung itu tak berbaju dan berjalan dari arah belakang menelusuri jalan setapak menuju sebuah rumah berdinding dari papan. Kulit punggungnya yang telanjang agak berkeringat nampak kuning langsat dibiarkan berkilau tersengat sinar matahari yang mulai tergelincir ke arah barat, pertanda hari tengah merayap menuju ambang sore. Kini langkah perjaka tanggung itu sudah berada di ambang pintu rumah berdinding papan itu. Dari ambang pintu, terlihat Dua sosok laki laki tengah duduk berbincang di ruang tamu. Satu laki laki berusia Enampuluh tahunan jelas tak asing baginya, karena pria tersebut adalah ayah kandungnya. Satu lagi pria yang duduk berbincang bersama ayahnya itu masih tergolong muda, berkemungkinan terpaut Tigapuluhan tahun lebih muda ketimbang ayahnya. Namun si remaja dapat mengenali laki laki itu yang tak lain merupakan perantau asal pulau Nias yang kini sudah menjadi tetangga barunya.
" Darimana saja kamu On " tegur sang ayah kepada perjaka tanggung yang baru menginjak ambang pintu rumah.
" Main Volly ayah " jawab si remaja pelan sembari tersenyum ke arah tamu ayahnya itu.
" Oh? Bang Boala.. Tumben main ke rumahku bang " sapa remaja yang tak lain dan tak bukan adalah Ono Sutraja, si bocah laki laki yang belum lama ini pernah diserang galau karena memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SLTA mengingat kehidupan keluarganya yang miskin papa.
" Ya On, ingin main aja kangen dengan ayahmu " ujar laki laki yang dipanggil Boala itu nampak berbasa basi.
Belum lagi Boala menyambung kata katanya, laki laki tua juga ayah Ono justru menimpali dengan ungkapkan kalimat bernada serius.
" Begini On, abang ini berniat mengajak kamu kerja merantau keluar wilayah ini " ujar ayahnya.
" Kerja apa dan dimana ayah " tanya Ono tak kalah serius.
" Di perkebunan Akasia, tepatnya di Uku On " balas sang ayah.
" Bagaimana ? Apa kamu mau ikut abang ini " imbuh ayahnya.
" Mau ayah, dari pada nganggur dan kerjakan dapat duit, tapi kerjanya apa ya bang " tanya Ono, kali ini ditujukan kepada Boal.
" Kerjanya ada beberapa jenis On, " ujar Boala.
" Apa saja itu bang " cecar Ono.
" Ada trebas belukar, baik target maupun borongan, ada juga semprot racun rumput dan ilalang. Kamu tinggal pilih mau yang mana, " jawab Boala.
" Ya, udah aku mau bang. Masalah pilihan kerja nanti dululah setelah kita sampai di Uku " balas Ono.
"Ok, tapi biar kamu betah di sana kamu harus cari teman temanmu agar mau ikut berangkat kerja sama sama " ungkap Boal.
" Oke " balas Ono setelah berfikir sejenak.
Keesokan harinya, terlihat Ono mengendarai sepeda ontel merek Phonix menuju beberapa rumah teman teman sekampung. Disebuah rumah yang berjarak Limaratusan meter dari rumahnya, Ono memperbincangkan perihal rencna merantaunya ikut Boala kepada salah seorang teman sebaya yang juga bernasib sama tak melanjutkan sekolah.
" Kamu mau To " ujar Ono menawarkan ajakannya itu kepada teman sekelasnya saat masih belajar di bangku sekolah itu.
" Mau lah, daripada tak ada kerjaan di rumah " balas teman yang disapa To itu.
" Siapa saja teman teman kita yang ikut On ? " Tanya To
" Ada Rohim, ada Olil, ada juga Ifa dan Mufti bersama ayahnya juga " jawab Ono membuat wajah Suryanto terlihat gembira.
Demikian bunyi syair lagu yang didendangkan si remaja tinggi semampai itu, mengingatkan kita pada satu nama Asep Irama, si penyayi Dangdut yang sedang ngetop saat itu. Di benak si remaja pelagu tembang yang tak lain ternyata Ono adanya itu kembali terlintasi bayangan terkait kisah sekolahnya di SMP belum lama ini. Dimana, berkat lagu hits yang satu itu juga telah membuat namanya populer di sekolahnya. Banyak guru dan teman sekolah yang kagum dengannya karena sangat piawai melagukan tembang tersebut. Suaranya yang merdu dan mampu menirukan karakter suara penyanyi aslinya, membuat Ono juga sering dijuluki " Si Asep Irama Sekolah ". Tak hanya itu, Ono juga sangat berpengaruh pada masa masa sekolah. Prestasinya yang mampu mempertahankan juara pertama di kelas mampu membuktikan jika ia merupakan anak yang cerdas sejak kelas I hingga kelas VI SD, bahkan berapa kali juara umum di sekolah. Demikian juga kala ia sekolah di bangku SMP.
Meskipun terkadang prestasinya melorot namun tak pernah melewati ranking IV yakni II,III,IV dan kembali lagi ke II atau III hingga lulus SLTP. Ono juga seorang pelajar yang religi penuh ketekunan dalam beribadah. Terbukti, saat ia kelas II SMP mampu menyabet juara I lomba Mushabaqah Tilawatil Qur,an atau MTQ disekolahnya. Hingga atas kepiawaian dan kemerduannya membaca Al-Qur'an, Ono juga pernah ternobat menjadi Qori terbaik tingkat remaja dalam lomba MTQ tingkat rayon Kecamatan mewakili desanya yang tercinta. Berkat prestasi menterengnya itu, menyeret Ono harus menerobos ajang semakin berat dan besar yakni tingkat kecamatan dan masih berhasil menjuarainya. Namun sayang ketika harus membawa nama kecamatannya, Ono harus mengakui kekalahan atas Qori remaja asal luar wilayah dengan hanya mampu menduduki peringkat ke Dua. Terbayang lagi dibenaknya atas kekalahan itu. Dimana dalam lomba, kekalahan Ono disebut sebut dewan juri dan Hakim lantaran ketidakserasian busana dalam lomba. Bagaimana tidak ? Karena kemiskinannya memaksa Ono harus meminjam kemeja, sarung dan kopiah tetangga yang kebesaran dalam ukuran tubuhnya. Lengan kemeja batik yang kepanjangan dan longgar nampak lucu bila dilipat justru menyerupai gulungan. Kopiahnya yang besar juga lucu ketika dikenakan di kepalanya yang masih kecil justru mirip kepala Si Usro Memakai Peci. Sarungnya yang besar dan gombrong juga semakin kedodoran ketika ia kenakan. Lebih lucu lagi, tatkala gulungan sarung di perutnya yang mungil justru mirip ibu hamil tertutup kemeja batik yang nyaris mencapai lututnya.
Kepandaian Ono juga dihiasi bakat melukis yang hebat. Bayangkan saja, ketika ia harus melukis hanya dengan alat seadanya, seperti halnya cukup spidol warna dan kertas putih, hasilnya justru luar biasa. Lukisan karya Ono benar benar hidup, terlebih ketika ia harus melukis sosok cantik Bidadari ataupun sosok tampan seorang kesatria, maka hasilnya benar benar cantik dan tampan. Bakat melukisnya itu juga dipadu dengan bakat menulisnya yang juga mengagumkan. Bagaimana tidak ? Ketika Ono masih duduk di kelas III SD justru ia sudah mampu memenangi kejuaraan lomba membuat karangan deskripsi. Bakat menulisnya juga dihias perbndaharaan kata yang cukup. Paduan bakat melukis dan menulisnya pun tak membuat para guru dan teman sekolah lantas heran ketika Ono berhasil membuat beberapa jilid cerita komik bergambar yang mengetengahkan tema pendekar dunia persilatan.
" Ya, benar aku ingat jika saat aku SMP komik itu aku buat dalam serial Pendekar Pedang Naga Merah " kenang Ono dalam hati.
Dengan karya komik itu, Ono juga berhasil memperoleh sedikitnya uang 300 rupiah sebagai jasa rental komik. Para perental adalah teman teman sekolah yang ngfans berat atas karyanya. Dari hasil itu jugalah uang jajan sekolah Ono sering terbantu, hingga tidak banyak ia harus mengantongi uang jajan dari orang tuanya yang berkehidupan jauh dibawah kata sederhana.
Wajah Ono nampak berseri seraya mengecilkan volume suara nyayian dangdutnya. Terlintas dibenaknya lagi sebuah kenangan masa sekolah. Kini ia terbayang kelihaiannya yang lain tatkala memainkan musik gitar. Banyak sekali teman sepermainan yang sering bertamu hanya demi melihat kelincahan jarinya memetik tali alat musik yang satu itu. Bahkan, saking banyak bakat dan kepandaiannya, banyak pula teman dan tetangga menyebutnya Si Anak Segala Bisa dan ada juga yang menyebutnya Si Anak Ajaib. Ono juga sangat pandai bercerita, baik legenda ataupun fiksi. Terkadang ia juga mampu mengarang sendiri. Saking tekunnya bercerita menjelang tidur, tak heran jika kamarnya tak pernah sepi oleh kawan yang sengaja numpang tidur di rumahnya. Mungkin orang mengira yang sengaja numpang tidur itu hanya Satu atau Dua bocah dalam satu malam,
akan tetapi lebih dari Tujuh anak bahkan tak jarang sempat terlihat Sepuluh anak anak tetangganya berjejer bak Ikan Asin di atas ranjang kayunya dalam keadaan tertidur pulas usai menikmati cerita seru karangan Ono sendiri. Sikap Ono yang penuh kasih sayang dengan teman justru menjadi ketakutan jika satu malam saja tiada satu temanpun numpang tidur di rumahnya itu. Akhirnya ia memutar akal dengan cara membuat agar cerita fiktivnya itu bersambung.
" He he he konyol emang " ujarnya dalam bayang kenangan masa sekolahnya dulu.
Kaki Ono yang telanjang dibujurkan. Kedua tangannya yang kecil ditarik ke belakang, menopang tubuh kurusnya duduk di bawah pohon rambutan yang rindang. Wajahnya menengadah ke awang awang. Matanya menyipit menatap ke atas, seolah ingin menembus langit yang menyilaukan seperti harapan ingin menembus kebimbangnnya tentang dua perbedaan pendapat ayah ibunya. Begitu getir ia merasakan kebimbangan itu. Namun setelah ia ingat bagaimana ibunya sering menangis karena penderitaan sekolahnya membuat Ono ingin memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Perlahan Ono bangkit dari duduknya setelah lamunannya buyar oleh awan yang menutup panas matahari. Kembali ia mengayun langkah menuju pulang.
PEREMPUAN paruhbaya nampak duduk termangu di kursi tamu seorang diri di rumah berdinding papan. Bola matannya nampak berkaca kaca ketika melihat seorang anak laki laki berusia Limabelasan tahun melempar benda sejenis buku begitu saja ke ranjang bertikar. Benda berjenis buku tersebut tak lain adalah merupakan ijazah sekolah. Dalam hati si wanita paruhbaya itu dapat merasakan kepedihan yang teramat sangat ketika melihat wajah murung anak laki laki itu yang tak bukan adalah anak kandungnya sendiri. Si wanita dapat menangkap arti di balik wajah murung anaknya itu. Jika bukan karena kesal, maka bisa dipastikan jika anaknya kini tengah memendam rasa kecewa. Si wanita paruh baya ingat malam kejadian sebulan lalu. Dimana ia dan suaminya bertengkar hebat karena persoalan masa depan sekolah anaknya itu. Perdebatan tersebut saling bertentangan. Dimana kemauan sang ayah menginginkan agar anaknya itu harus melanjutkan sekolah. Sementara ia sebagai ibu kandung tidak mengizinkan jika anaknya yang baru lulus SMP itu harus melanjutkan sekolah dengan alasan sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan demi penderitaan anaknya yang menimba ilmu pendidikan, di tengah lautan derita hidup dalam kemiskinannya. Sang ibu yakin jika pertengkarannya dengan sang suami berkemungkinan sudah didengar anaknya pada malam itu.
" Ada apa On, kok rapotnya dilempar begitu saja ? " Tanya sang ibu lugas pada putranya itu dengan suara yang lembut.
" Ndak ada apa apa Mbok, Ono lagi capek dan gerah saja " jawab anaknya yang ternyata adalah Ono mencoba sembunyi dari kenyataan fikirannya saat ini.
" Ya sudah kamu lekas ganti pakaian lalu makan siang " titah ibunya.
" Ya Mbok " jawab Ono.
Ono segera bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dicampakan stelan biru putihnya itu ke lalu dipandanginya lekat lekat busana yang selama ini jadi teman setia setiap harinya ke sekolah. Lalu bibirnya nampak bergetar tak kuasa menahan tangisan.
" Selamat tinggal baju dan celanaku, engkau kan jadi kenangan terakhir sekolahku, karena aku tak akan lagi melanjutkan sekolah " ujar Ono dalam hati seolah berpamitan pada sepasang pakaiannya itu. Lama sekali Ono sembunyi dikamarnya sembari menanti air mata yang mengalir di pipinya itu reda.
Hampir setengah jam Ono menangis tanpa suara di kamarnya. Setelah itu, ia pun keluar dan bergegas menuju dapurnya. Diambilnya satu entong nasi putih dalam priuk yang masih ada di atas tungku dan sedikit lauk ampas tahu yang juga lauk kesukaanya juga masih ada di kuali hangus di atas tungku dapur.
" Walaupun hampir setiap hari Mboke memasakmu, namun kamu tetap jadi paforitku, Gembos ya Gembos.." Ucap Ono seolah ingin menghibur kesedihanya dengan menyebut nama lauk yang terbuat dari ampas tahu itu.
Ono melahap nasi dalam piring dengan perasaan masih berkecamuk mengingat keputusannya untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.
" Cukuplah SMP aku memiliki tamatan sekolah, daripada membuat si Mbok menangis terus melihat aku terus sengsara menempuh pendidikan " ucapnya dalam hati seraya mengunyah lauk Gembos yang terasa empuk di lidahnya itu.
SEBULAN kemudian, terlihat bocah remaja laki laki bertubuh tinggi semampai berjalan agak tergesa gesa. Dilihat dari raut wajah tampan yang masih imut diperkirakan usia bocah remaja itu sudah menginjak Enambelas tahunan. Si perjaka tanggung itu tak berbaju dan berjalan dari arah belakang menelusuri jalan setapak menuju sebuah rumah berdinding dari papan. Kulit punggungnya yang telanjang agak berkeringat nampak kuning langsat dibiarkan berkilau tersengat sinar matahari yang mulai tergelincir ke arah barat, pertanda hari tengah merayap menuju ambang sore. Kini langkah perjaka tanggung itu sudah berada di ambang pintu rumah berdinding papan itu. Dari ambang pintu, terlihat Dua sosok laki laki tengah duduk berbincang di ruang tamu. Satu laki laki berusia Enampuluh tahunan jelas tak asing baginya, karena pria tersebut adalah ayah kandungnya. Satu lagi pria yang duduk berbincang bersama ayahnya itu masih tergolong muda, berkemungkinan terpaut Tigapuluhan tahun lebih muda ketimbang ayahnya. Namun si remaja dapat mengenali laki laki itu yang tak lain merupakan perantau asal pulau Nias yang kini sudah menjadi tetangga barunya.
" Darimana saja kamu On " tegur sang ayah kepada perjaka tanggung yang baru menginjak ambang pintu rumah.
" Main Volly ayah " jawab si remaja pelan sembari tersenyum ke arah tamu ayahnya itu.
" Oh? Bang Boala.. Tumben main ke rumahku bang " sapa remaja yang tak lain dan tak bukan adalah Ono Sutraja, si bocah laki laki yang belum lama ini pernah diserang galau karena memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SLTA mengingat kehidupan keluarganya yang miskin papa.
" Ya On, ingin main aja kangen dengan ayahmu " ujar laki laki yang dipanggil Boala itu nampak berbasa basi.
Belum lagi Boala menyambung kata katanya, laki laki tua juga ayah Ono justru menimpali dengan ungkapkan kalimat bernada serius.
" Begini On, abang ini berniat mengajak kamu kerja merantau keluar wilayah ini " ujar ayahnya.
" Kerja apa dan dimana ayah " tanya Ono tak kalah serius.
" Di perkebunan Akasia, tepatnya di Uku On " balas sang ayah.
" Bagaimana ? Apa kamu mau ikut abang ini " imbuh ayahnya.
" Mau ayah, dari pada nganggur dan kerjakan dapat duit, tapi kerjanya apa ya bang " tanya Ono, kali ini ditujukan kepada Boal.
" Kerjanya ada beberapa jenis On, " ujar Boala.
" Apa saja itu bang " cecar Ono.
" Ada trebas belukar, baik target maupun borongan, ada juga semprot racun rumput dan ilalang. Kamu tinggal pilih mau yang mana, " jawab Boala.
" Ya, udah aku mau bang. Masalah pilihan kerja nanti dululah setelah kita sampai di Uku " balas Ono.
"Ok, tapi biar kamu betah di sana kamu harus cari teman temanmu agar mau ikut berangkat kerja sama sama " ungkap Boal.
" Oke " balas Ono setelah berfikir sejenak.
Keesokan harinya, terlihat Ono mengendarai sepeda ontel merek Phonix menuju beberapa rumah teman teman sekampung. Disebuah rumah yang berjarak Limaratusan meter dari rumahnya, Ono memperbincangkan perihal rencna merantaunya ikut Boala kepada salah seorang teman sebaya yang juga bernasib sama tak melanjutkan sekolah.
" Kamu mau To " ujar Ono menawarkan ajakannya itu kepada teman sekelasnya saat masih belajar di bangku sekolah itu.
" Mau lah, daripada tak ada kerjaan di rumah " balas teman yang disapa To itu.
" Siapa saja teman teman kita yang ikut On ? " Tanya To
" Ada Rohim, ada Olil, ada juga Ifa dan Mufti bersama ayahnya juga " jawab Ono membuat wajah Suryanto terlihat gembira.
Demikian bunyi syair lagu yang didendangkan si remaja tinggi semampai itu, mengingatkan kita pada satu nama Asep Irama, si penyayi Dangdut yang sedang ngetop saat itu. Di benak si remaja pelagu tembang yang tak lain ternyata Ono adanya itu kembali terlintasi bayangan terkait kisah sekolahnya di SMP belum lama ini. Dimana, berkat lagu hits yang satu itu juga telah membuat namanya populer di sekolahnya. Banyak guru dan teman sekolah yang kagum dengannya karena sangat piawai melagukan tembang tersebut. Suaranya yang merdu dan mampu menirukan karakter suara penyanyi aslinya, membuat Ono juga sering dijuluki " Si Asep Irama Sekolah ". Tak hanya itu, Ono juga sangat berpengaruh pada masa masa sekolah. Prestasinya yang mampu mempertahankan juara pertama di kelas mampu membuktikan jika ia merupakan anak yang cerdas sejak kelas I hingga kelas VI SD, bahkan berapa kali juara umum di sekolah. Demikian juga kala ia sekolah di bangku SMP.
Meskipun terkadang prestasinya melorot namun tak pernah melewati ranking IV yakni II,III,IV dan kembali lagi ke II atau III hingga lulus SLTP. Ono juga seorang pelajar yang religi penuh ketekunan dalam beribadah. Terbukti, saat ia kelas II SMP mampu menyabet juara I lomba Mushabaqah Tilawatil Qur,an atau MTQ disekolahnya. Hingga atas kepiawaian dan kemerduannya membaca Al-Qur'an, Ono juga pernah ternobat menjadi Qori terbaik tingkat remaja dalam lomba MTQ tingkat rayon Kecamatan mewakili desanya yang tercinta. Berkat prestasi menterengnya itu, menyeret Ono harus menerobos ajang semakin berat dan besar yakni tingkat kecamatan dan masih berhasil menjuarainya. Namun sayang ketika harus membawa nama kecamatannya, Ono harus mengakui kekalahan atas Qori remaja asal luar wilayah dengan hanya mampu menduduki peringkat ke Dua. Terbayang lagi dibenaknya atas kekalahan itu. Dimana dalam lomba, kekalahan Ono disebut sebut dewan juri dan Hakim lantaran ketidakserasian busana dalam lomba. Bagaimana tidak ? Karena kemiskinannya memaksa Ono harus meminjam kemeja, sarung dan kopiah tetangga yang kebesaran dalam ukuran tubuhnya. Lengan kemeja batik yang kepanjangan dan longgar nampak lucu bila dilipat justru menyerupai gulungan. Kopiahnya yang besar juga lucu ketika dikenakan di kepalanya yang masih kecil justru mirip kepala Si Usro Memakai Peci. Sarungnya yang besar dan gombrong juga semakin kedodoran ketika ia kenakan. Lebih lucu lagi, tatkala gulungan sarung di perutnya yang mungil justru mirip ibu hamil tertutup kemeja batik yang nyaris mencapai lututnya.
Kepandaian Ono juga dihiasi bakat melukis yang hebat. Bayangkan saja, ketika ia harus melukis hanya dengan alat seadanya, seperti halnya cukup spidol warna dan kertas putih, hasilnya justru luar biasa. Lukisan karya Ono benar benar hidup, terlebih ketika ia harus melukis sosok cantik Bidadari ataupun sosok tampan seorang kesatria, maka hasilnya benar benar cantik dan tampan. Bakat melukisnya itu juga dipadu dengan bakat menulisnya yang juga mengagumkan. Bagaimana tidak ? Ketika Ono masih duduk di kelas III SD justru ia sudah mampu memenangi kejuaraan lomba membuat karangan deskripsi. Bakat menulisnya juga dihias perbndaharaan kata yang cukup. Paduan bakat melukis dan menulisnya pun tak membuat para guru dan teman sekolah lantas heran ketika Ono berhasil membuat beberapa jilid cerita komik bergambar yang mengetengahkan tema pendekar dunia persilatan.
" Ya, benar aku ingat jika saat aku SMP komik itu aku buat dalam serial Pendekar Pedang Naga Merah " kenang Ono dalam hati.
Dengan karya komik itu, Ono juga berhasil memperoleh sedikitnya uang 300 rupiah sebagai jasa rental komik. Para perental adalah teman teman sekolah yang ngfans berat atas karyanya. Dari hasil itu jugalah uang jajan sekolah Ono sering terbantu, hingga tidak banyak ia harus mengantongi uang jajan dari orang tuanya yang berkehidupan jauh dibawah kata sederhana.
Wajah Ono nampak berseri seraya mengecilkan volume suara nyayian dangdutnya. Terlintas dibenaknya lagi sebuah kenangan masa sekolah. Kini ia terbayang kelihaiannya yang lain tatkala memainkan musik gitar. Banyak sekali teman sepermainan yang sering bertamu hanya demi melihat kelincahan jarinya memetik tali alat musik yang satu itu. Bahkan, saking banyak bakat dan kepandaiannya, banyak pula teman dan tetangga menyebutnya Si Anak Segala Bisa dan ada juga yang menyebutnya Si Anak Ajaib. Ono juga sangat pandai bercerita, baik legenda ataupun fiksi. Terkadang ia juga mampu mengarang sendiri. Saking tekunnya bercerita menjelang tidur, tak heran jika kamarnya tak pernah sepi oleh kawan yang sengaja numpang tidur di rumahnya. Mungkin orang mengira yang sengaja numpang tidur itu hanya Satu atau Dua bocah dalam satu malam,
akan tetapi lebih dari Tujuh anak bahkan tak jarang sempat terlihat Sepuluh anak anak tetangganya berjejer bak Ikan Asin di atas ranjang kayunya dalam keadaan tertidur pulas usai menikmati cerita seru karangan Ono sendiri. Sikap Ono yang penuh kasih sayang dengan teman justru menjadi ketakutan jika satu malam saja tiada satu temanpun numpang tidur di rumahnya itu. Akhirnya ia memutar akal dengan cara membuat agar cerita fiktivnya itu bersambung.
" He he he konyol emang " ujarnya dalam bayang kenangan masa sekolahnya dulu.
BERSAMBUNG


Tidak ada komentar:
Posting Komentar